. script src='http://denisahlan.netau.net/hujansalju.js' type='text/javascript'/>

Minggu, 24 Juni 2012

DEKLAMASI


I DEKLAMASI DAN POETRY READING
A.      Sekilas Deklamasi dan Poetry Reading
Deklamasi berasal dari bahasa Latin yang maksudnya declamare atau declaim yang bermakna membaca sesuatu hasil sastera yang berbentuk puisi dengan lagu atau gerak tubuh sebagai alat bantu. Gerak yang dimaksudkan ialah gerak alat bantu yang puitis, yang seirama dengan isi bacaan. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, deklamasi adalah penyajian sajak yang disertai lagu dan gaya.
Umumnya memang deklamasi berkait rapat dengan puisi, akan tetapi membaca sebuah cerpen dengan lagu atau gerak tubuh juga bisa dikatakan mendeklamasi. Mendeklamasikan puisi atau cerpen bermakna membaca, tetapi membaca tidak sama dengan maksud mendeklamasi. Maksudnya di sini bahwa apapun pengertian membaca tentunya jauh berbeda dengan maksud deklamasi. Di Indonesia perkataan deklamasi sudah ada lewat tahun 1950. Orang yang melakukan deklamasi itu disebut "Deklamator" untuk lelaki dan "Deklamatris" untuk perempuan.
Sebelum ada Istilah baca puisi, kegiatan deklamasi sudah dikenal lebih dahulu, baru pada  tahun 1960-an,  sepulang belajar dari Amerikat Serikat, WS. Rendra membawa oleh-oleh sastra, dengan istilah Poetry Reading. Perkembangan Poetry Reading atau baca puisi sangat cepat populer dan menarik pemerhati dan penikmat sastra, sehingga baca puisi lebih sering diadakan oleh para penyair, pelajar, mahasiswa dalam perbagai kegiatan, misalnya: lomba baca puisi, dialoq sastra dan baca puisi, pertunjukan puisi musikalitas, parade puisi, dan lain-lain.
B.       Perbedaan Baca Puisi (Poetry Reading) dan Deklamasi Puisi
Sesuai dengan pengertian deklamasi yang telah disebutkan diatas, bahwa mendeklamasi puisi berbeda dengan membaca puisi
1.    Saat membaca puisi si pembaca memegang naskah puisi, sedangkan deklamasi tidak memegang naskah puisi sehingga dapat berkonsentrasi dengan baik melakukan gerak jasmaniah secara bervariasi.
2.    Ketika  membaca puisi, puisi yang dibaca lebih banyak dan panjang dari pada deklamasi.
3.    Pada membaca puisi, faktor suara atau intonasi banyak berperan, sedangkan dalam deklamasi disamping intonasi juga faktor mimik dan getsur atau gerak jasmaniah.
4.    Membaca puisi relatif untuk diri sendiri dan orang lain, sedangkan deklamasi semata-mata untuk orang lain.

II AKSENTUASI
Aksentuasi adalah upaya untuk mengoptimalkan unsur pembeda pada suatu ungkapan bahasa agar tidak berkesan monoton dengan tekanan ucapan tertentu, isi pikiran dan isi perasaan bisa ditonjolkan
A.      Teknik Teknik Ucapan Ada Tiga:
1.    Tekanan Dinamik
Tekanan dinamik ialah tekanan keras di dalam ucapan. Untuk membedakan sebuah kata yang dianggap lebih penting dari yang lain, kita memberi tekanan keras waktu mengucapkan kata tersebut;
“Saya tidak suka serabi!”
(Artinya . . . kalau penganan lain saya suka)
Saya tidak suka serabi!”
(Artinya . . . kalau ibu saya suka)
“Saya tidak suka serabi!”
(Artinya . . . tak perlu dibujuk lagi)
2.    Tekanan Tempo
Tekanan tempo ialah tekanan terhadap kata dengan memperlambat pengucapan kata tersebut;
“Saya tidak suka se - ra - bi!”
“Sa - ya tidak suka serabi!”
“Saya ti - dak suka serabi!”
Hasilnya serupa dengan tekanan dinamik. Kata yang diberi tekanan tempo menjadi kata yang lebih penting dari yang lainnya. Jadi, tekanan tempo juga sangat berguna untuk menjelaskan isi pikiran.
3.    Tekanan Nada
Tekanan nada dipergunakan untuk mengucapkan kata-kata dengan lagu tertentu. Misalnya: “Hebat betul kau ini.”
Kalimat di atas bisa mencerminkan perasaan kagum tetapi bisa juga mencerminkan perasaan jengkel, marah, ataupun sedih, tergantung nada pengucapannya.
B.       Latihan!
1.    Ucapkan dengan rasa kagum:
“Hebat betul kau ini!”
2.    Ucapkan dengan rasa jengkel:
“Hebat betul kau ini!”
3.    Ucapkan dengan rasa sedih:
“Hebat betul kau ini!”
Ternyata tekanan nada sangat berguna untuk mencerminkan isi perasaan.
Contoh lain aksentuasi sebagai berikut:


Serang (kota) dan serang (tindakan menyerang dalam pertempuran).
Apel (buah) dan apel bendera (menghadiri upacara bendera).
Mental (kejiwaan) dan mental (terpelanting).
Tahu (masakan, makanan) dan tahu (mengetahui sesuatu).

III ARTIKULASI

Artikulasi ialah lafal atau pengucapan kata (perubahan rongga dan ruang di saluran suara untuk menghasilkan bunyi bahasa). Artikulasi yang baik yaitu  pengucapan yang jelas. Setiap suku kata terucap dengan jelas dan terang meskipun diucapkan dengan cepat sekali. Jangan terjadi kata‑kata yang diucapkan menjadi tumpang-tindih. sehingga telinga pendengar/penonton dapat mengerti pada kata‑kata yang diucapkan. Lafal yang benar pengucapan kata yang sesuai dengan hukum pengucapan bahasa yang dipakai. Misalnya, berani yang berarti "tidak takut" harus diucapkan berani bukan ber‑ani.
Pada pengertian artikulasi ini dapat ditemukan beberapa sebab yang mengakibatkan terjadinya artikulasi yang kurang/tidak benar, yaitu:
Cacat artikulasi alam: cacat artikulasi ini dialami oleh orang yang berbicara gagap atau orang yang sulit mengucapkan salah satu konsonan, misalnya ‘r’, dan sebagainya.
Artikulasi jelek ini bukan disebabkan karena cacat artikulasi, melainkan terjadi sewaktu‑waktu. Hal ini sering terjadi pada pengucapan naskah/dialog. Misalnya:
Kehormatan menjadi kormatan
Menyambung menjadi mengambung, dan sebagainya.
Artikulasi jelek disebabkan karena belum terbiasa pada dialog, pengucapan terlalu cepat, gugup, dan sebagainya.
Artikulasi tak tentu: hal ini terjadi karena pengucapan kata/dialog terlalu cepat,
seolah‑olah kata demi kata berdempetan tanpa adanya jarak sama sekali. Untuk mendapatkan artikulasi yang baik maka kita harus melakukan latihan. Misalnya,  mengucapkan alfabet dengan benar, perhatikan bentuk mulut pada setiap pengucapan. Ucapkan setiap huruf dengan nada‑nada tinggi, rendah, sengau, kecil, besar, dan seterusnya, juga ucapkanlah dengan berbisik.Variasikan dengan pengucapan lambat, cepat, naik, turun, dan sebagainya.


IV INTONASI
Intonasi adalah lagu membaca puisi. Intonasi atau lagu kalimat berkaitan dengan ketepatan dalam menentukan keras-lemahnya pengucapan suatu kata. Intonasi dan artikulasi sangat berkaitan dengan irama. Irama merupakan unsur sangat penting dan jiwa dari sebuah puisi. Irama adalah totalitas dari tinggi-rendah, keras-lembut, dan panjang- pendek suara. Irama puisi tercipta dengan melakukan intonasi.
A.      Jenis-Jenis Intonasi dalam Pembacaan Puisi
1.    Intonasi dinamik, yaitu tekanan pada kata-kata yang dianggap penting.
2.    Intonasi nada, yaitu tekanan tinggi-rendahnya suara. Suara tinggi menggambarkan
keriangan, marah, takjub, dan lain sebagainya. Sementara, suara rendah mengungkapkan kesedihan, pasrah, ragu, putus asa, dan lain sebagainya.
3.    Intonasi tempo, yaitu cepat-lambat pengucapan suku kata atau kata.
Intonasi harus diatur sedemikian rupa, sehingga mampu menghasilkan atau menampilkan karya seni yang indah.
B.       Perbedaan Lafal, Tekanan, Intonasi, dan Jeda
1.    Lafal merupakan cara seseorang atau sekelompok orang untuk mengucapkan bunyi-bunyi bahasa. Dalam bahasa tulis , lafal tidak terlihat dengan jelas dan lebih jelas apabila diucapkan dengan lisan
2.    Tekanan merupakan bagian yang terpenting dari lafal, yang ditunjukkan sebagai fariasi dalam kalimat yang lebih penting
3.    Intonasi  merupakan lagu kalimat atau kecepatan penyajian tinggi-rendahnya nada kalimat.
4.    Jeda merupakan waktu berhenti atau hentian sebentar dalam ujaran, dan berpengaruh pada perubahan makna.

V AKTING

Akting (berperan) berasal dari kata to act, yang berarti beraksi. Akting juga bisa diartikan melakukan sesuatu atau aksi sesuai karakter tokoh yang diperankannya, dan melakukan yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari sebagaimana mestinya.
Untuk itu, perlu diketahui juga, bahwa akting dalam konteks ini adalah perpaduan antara atraksi fisikal (tubuh)            , Intelektual (analisis karakter dan naskah), dan spiritual (transformasi jiwa).
Usaha seorang aktor dalam melakoni seni akting adalah dengan mengembangkan kemampuan berekspresi, menganalisa naskah, dan mentransformasi diri ke dalam karakter yang ia mainkan.
Dengan menempa ketiganya, aktor akan bisa membuka diri dan menyerap kekayaan pengalaman hidup dari si tokoh sesuai dengan isi naskah.
Untuk mencapai hal tersebut, aktor bisa mengolah kembali pengalaman hidup atau melihat situasi sosial di lingkungan sekitarnya.
Aktor harus mampu menyatukan dirinya ke dalam personal si tokoh (isi puisi) yang akan ia mainkan (bawakan). Hal ini berarti berhubungan dengan kondisi batin. Karena kondisi batin inilah yang kelak akan menghasilkan penampilan (permainan) yang kaya dan kreatif serta presentasi yang natural. Sehingga proses penghayatan pun akan mengalir dengan kondisi batin yang baik.
Seorang aktor juga harus diasah intuisi-nya, untuk mempelajari sifat-sifat manusiawi dalam kehidupan si tokoh (isi puisi)yang akan ia bawakan, serta menuangkannya dalam batin atau biasa dikenal dengan proses inner-act.
Akting yang baik ialah gerak yang:
1.      terlihat (blocking baik/tepat penempatan di atas panggung).
2.      jelas (tidak ragu‑ragu, meyakinkan).
3.      dimengerti (sesuai dengan hukum gerak dalam kehidupan).
4.      menghayati (sesuai dengan tuntutan/jiwa peran{isi puisi} yang ditentukan dalam naskah).
Pemain (deklamator) lebih baik terlihat sebagian besar bagian depan tubuh daripada terlihat sebagian besar belakang tubuh. Hal ini dapat diatur dengan patokan sebagai berikut:
1.        Kalau berdiri menghadap ke kanan, maka kaki kanan sebaiknya berada di depan.
2.        Kalau berdiri menghadap ke kiri, maka kaki kiri sebaiknya berada di depan.
Untuk menambah kualitas akting dalam berdeklamasi, ada teknik yang harus digunakan deklamator yaitu teknik muncul. Pemeran Muncul pertama kali bahasa inggris di sebut dengan Teknik of Entrance  yaitu teknik seorang pemain untuk pertama kalinya tampil di atas pentas dalam satu sandiwara satu babak atau satu adegan. Barang kali kemunculannya tatkala pemain-pemain yang lain sudah berada duluan di atas pentas dalam satu adegan, barang kali ia muncul tepat waktu layar di buka, barang kali juga ia muncul pertama kali seorang diri diatas pentas seorang iri seorang diri di atas pentas sebagai pembuka.
Tekinik muncul ini penting karena ia lakukan dalam keadaan kesan ( imprese) menerbitkan ke inginan tahuan penonton kepada sang pemain, bagaiman ia melakukan aktifitas penonton akan lebih dapat menikmati dalam bermain.
Ketika di dalam naskah “ Panembahan Reso ( W.S Rendra ). Ada adegan pesta pora di Istana, jaga baya terburu-buru dating menghadap Raja membawa surat Panji- Tumbal.
Jagabaya          : Yang mulia, hamba menghadap untuk mempersembahkan surat.
Raja Tua          : Reso bawa dia kemari.
Reso                : baik,yang mulia. Mari kamu ! bicara
Jagabaya          :Hamba memimpin pasukan pengawal  istana hari ini. Seorang pasukan menggebu dengan kuda. Ia datang dari Tegal Wurung membawa surat panji tumbal untuk Sri baginda, sedang ia sendiri selesai bicara langsung melompat ke punggung kuda, dan setelah mohon maaf karena ia sendiri di buru oleh urusan maha gawat lalu melaju di telan debu.
Raja Tua          : bawa kemari surat itu.

Muncul Jagabaya membawa surat Panji Tumbal ayang diserahkan kepada raja tua, supaya lebih memberi pendalaman watak permainan maka peranan tersebut harus dapat menyesuaikan alur irama permainan yang sedang – berjalan.
Jagabaya          : ( Melangkah beberapa langkah menuju arah ke-arah Raja Tua, dengan tergesa-gesa ).
Jagabaya          : yang mulia, hamba menghadap Untuk mempersenbahklan surat (menunggu beberapa saat reaksi Raja Tua) Didalam naskah “ OIDIPUS REX “ (Sopholes) adanya adegan Ratu Jocosta yang keluar dari istana denga tergesa-gesa untuk memisah pertengkaran oidpus dengan creon sambil berseru :
Jocosta : Bencana ! Bencana ! kenapa para pangeran bersenketa, sedang negara dalam bencana.
Akan lebih megesankan lagi apabila pemeran jocosta muncul, dengan setengah berlari sambil berseru
Jocosta : Bencana ! Bencana !
( lalu berhenti sekejap dua kejap sambil memandang tajam pada oidipus dan creon sambil maju ke tengah-tengah di antara oidipus dan creon sambil mengucapkan sisa kalimat ) kenapa para pangeran bersengketa, sedang negara dalam bencana.
                                        Selain teknik muncul,  untuk membantu terciptanya kulitas akting, salah satu cara yang harus dilakukan seorang dekmator hendaknya menguasai teknik bela diri dasar.



VI IMPROVISASI

Improvisasi adalah ciptaan spontan ketika seorang aktor bermain peran (Rendra, 1993: 70). Menurut Panuti Sudjiman (1990:37) improvisasi merupakan penciptaan seketika, tanpa persiapan atau rencana. Menurut Ruth Beall Heining ( 1993 : 184 ) improvisasi sebagai aktivitas yang dihasilkan secara spontan melalui suatu situasi.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapatlah dirumuskan bahwa improvisasi merupakan suatu aktivitas yang dihasilkan secara spontan dengan menggalakkan daya imajinasi, kreativitas, dan inovasi seorang aktor.
Improvisasi dalam pengertian saat ini merupakan latihan pengembangan dasar dari bentuk-bentuk pelatihan elemen dasar (olah vokal, olah tubuh, olah pikir dan olah rasa serta teori-teori pemanggungan dasar).
Jenis-Jenis Improvisasi Menurut Rendra, antara lain:
1.    Improvisasi solo
Di dalam latihan improvisasi ini aktor tidak mempunyai naskah, tidak mempunyai sutradara. Ia benar-benar sendiri, bahkan si aktor tidak mempunyai persiapan apapun, satu-satunya yang ia miliki hanyalah persiapan mental. Karena ia berimprovisasi sendirian tanpa pasangan, maka disebut improvisasi solo.
2.    Improvisasi dengan perabotan
Yang dimaksud dengan perabotan di sini adalah benda apa saja yang jadikan alat atau perabotan di saat seorang aktor berlakon (berakting). Dalam permulaan berimprovisasi, seorang aktor harus benar-benar tenang dan kosong, sehingga ketika seorang aktor berada di atas panggung ia dapat memanfaatkan benda-benda yang ada di atas panggung sebagai wadah untuk berimprovisasi.
3.     Improvisasi dengan menanggapi bunyi dan musik
Kegunaan dari latihan improvisasi ini adalah untuk mempersiapkan agar akting seorang aktor di atas panggung tidak hanya jelas dan tepat, tetapi juga mengandung daya khayal yang mampu membuat penonton terpesona, dengan memanfaatkan irama musik yang mengiringi permainan sang aktor.

VII TATA PENTAS

Pentas/panggung adalah tempat berlangsungnya sebuah pertunjukan. Dalam sejarah perkembangannya, seni teater memiliki berbagai macam jenis panggung yang dijadikan tempat pementasan. Perbedaan jenis panggung ini dipengaruhi oleh tempat dan zaman di mana teater itu berada serta gaya pementasan yang dilakukan. Bentuk panggung yang berbeda memiliki prinsip artistik yang berbeda. Misalnya, dalam panggung yang penontonnya melingkar, membutuhkan tata letak perabot yang dapat enak dilihat dari setiap sisi. Berbeda dengan panggung yang penontonnya hanya satu arah dari depan. Untuk memperoleh hasil terbaik, penata panggung diharuskan memahami karakter jenis panggung yang akan digunakan serta bagian-bagian panggung tersebut.
Jenis-Jenis Panggung sebagai berikut:
A.  Arena
Panggung arena adalah panggung yang penontonnya melingkar atau duduk mengelilingi panggung. Penonton sangat dekat  sekali dengan deklamator. Agar deklamator dapat terlihat dari setiap sisi, maka penggunaan set dekor berupa bangunan tertutup vertikal tidak diperbolehkan karena dapat menghalangi pandangan penonton. Karena bentuknya yang dikelilingi oleh penonton, maka penata panggung dituntut kreativitasnya untuk mewujudkan set dekor. Segala perabot yang digunakan dalam panggung arena harus benar-benar dipertimbangkan dan dicermati secara hati-hati baik bentuk, ukuran, dan penempatannya. Semua ditata agar enak dipandang dari berbagai sisi.
Panggung arena biasanya dibuat secara terbuka (tanpa atap) dan tertutup. Inti dari pangung arena baik terbuka atau tertutup adalah mendekatkan penonton dengan deklamator. Kedekatan jarak ini membawa konsekuensi artistik tersendiri baik bagi deklamator dan (terutama) tata panggung. Karena jaraknya yang dekat, detil perabot yang diletakkan di atas panggung harus benar-benar sempurna sebab jika tidak maka cacat sedikit saja akan tampak. Misalnya, di atas panggung diletakkan kursi dan meja berukir. Jika bentuk ukiran yang ditampilkan tidak tampak sempurna ‘berbeda satu dengan yang lain’ maka penonton akan dengan mudah melihatnya. Hal ini mempengaruhi nilai artistik pementasan.
B.   Proscenium
Panggung proscenium bisa juga disebut sebagai panggung bingkai karena penonton menyaksikan aksi aktor melalui sebuah bingkai atau lengkung proscenium (proscenium arch). Bingkai yang dipasangi layar atau gorden inilah yang memisahkan wilayah akting deklamator dengan penonton yang menyaksikan pertunjukan dari satu arah. Dengan pemisahan ini, maka pergantian tata panggung dapat dilakukan tanpa sepengetahuan penonton. Aktor dapat bermain dengan leluasa seolah-olah tidak ada penonton yang hadir melihatnya. Pemisahan ini dapat membantu efek artistik yang dinginkan terutama dalam gaya realisme yang menghendaki lakon seolah-olah benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata.
C. Thrust
Panggung thrust seperti panggung proscenium tetapi dua per tiga bagian depannya menjorok ke arah penonton. Pada bagian depan yang menjorok ini penonton dapat duduk di sisi kanan dan kiri panggung. Panggung thrust nampak seperti gabungan antara panggung arena dan proscenium.
Untuk penataan panggung, bagian depan diperlakukan seolah panggung arena sehingga tidak ada bangunan tertutup vertikal yang dipasang. Sedangkan panggung belakang diperlakukan seolah panggung proscenium yang dapat menampilan kedalaman objek atau pemandangan secara perspektif.

VIII TATA RIAS

Tata rias adalah segala sesuatu yang harus ditujukan untuk membentuk artistik yang mendukung deklamator dalam sebuah pementasannya. Tata rias ditekankan pada cara menggunakan bahan-bahan yang diperlukan untuk mewujudkan wajah dan badan yang artistik.
Hal yang perlu diperhitungkan dalam tata rias pentas yaitu jarak antara penonton dengan yang ditonton dan intensitas penyinaran lampu. Dengan memperhitungkan daerah pandang penonton yang mempunyai jarak antara 4 sampai 6 meter maka akan mempengaruhi tebal-tipisnya tata rias. Begitu juga dengan intensitas cahaya dan warna cahaya akan sangat mempengaruhi warna dan kejelas sebuah tata rias.
A.      Tugas dan Fungsi Tata Rias
Tugas tata rias yaitu membantu memberikan dandanan atau perubahan-perubahan pada deklamator sehingga terbentuk dunia pentas dengan suasana yang kena dan wajar. Tugas ini dapat merupakan fungsi pokok, dapat pula sebagai fungsi bantuan. Sebagai fungsi pokok, misalnya tata rias ini mengubah seorang gadis belia menjadi nenek tua atau seorang wanita sebagai seorang laki-laki atau sebaliknya. Sebagai fungsi bantuan, misalnya seorang gadis muda akan dirias menjadi gadis muda, tetapi masih harus memerlukan sedikit riasan muka atau rambut dan hal-hal kecil lainnya.
B.       Kegunaan Tata Rias
1.      Merias tubuh berarti mengubah  hal yang alami menjadi hal yang berguna artinya dengan prinsip mendapatkan daya guna yang tepat. Bedanya dengan rias cantik adalah kalau rias cantik mengubah hal yang jelek menjadi cantik. Sedangkan rias untuk teater adalah mengubah hal yang alami menjadi hal yang dikehendaki.
2.      Mengatasi efek tata lampu yang kuat.
3.      Membuat wajah dan badan sesuai dengan isi puisi yang dikehendaki.

C.      Faktor-Faktor yang Perlu Diperhatikan dalam Tata Rias
1.      Rata dan halusnya base. Base yaitu bahan yang berguna untuk melindungi kulit dan untuk memudahkan pelaksanaan dan penghapusan tata rias.
2.      Kesamaan Foundation. Foundation yaitu bedak dasar yang memberikan dasar warna kulit sesuai dengan warna kulit peran.
3.      Penggunaan garis-garis yang layak. Garis-garis ini berguna untuk memperjelas anatomi muka, batas-batas bagian wajah (alis, mata, keriput-keriput).
4.      Harmoni antara sinar dan bayangan-bayangan. Highlight dan shadow memberi efek bahwa manusia itu tiga dimensional.
D.      Bahan-Bahan Tata Rias
1.      Base, yang termasuk ini adalah bedak dingin atau coldcream. Cara memakainya mengambil dengan telunjuk, letakkan pada bagian yang menonjol, gosok dengan cara memutar sampai rata.
2.      Foundation, ada dua macam, yaitu stick dan pasta. Cara menggunakannya sama dengan base.
3.      Lines, gunanya untuk memberi batas anatomi muka. Macamnya ada eyebrow pencil (membentuk alis dan memperindah mata), eyelash (membentuk bulu mata agar melengkung), lipstick, highlight dan shadow (menciptakan efek tiga dimensi pada muka), eyeshadow (membentuk dimensi pada mata).
4.      Rouge, gunanya untuk menghidupkan  pipi dekat mata, tulang pipi, dagu, kelopak mata antara hidung dan mata.
5.      Cleansing, gunanya untuk membersihkan segala tata rias dan juga sebagai nutrient dan pengobatan padan kulit.
E.       Macam-macam Tata Rias
1.      Rias Jenis yaitu rias yang  dilakukan untuk mengubah jenis seorang deklamator, dari laki-laki menjadi wanita atau sebaliknya.
2.      Rias Bangsa yaitu rias yang berfungsi untuk mengubah seorang deklamator yang harus memainkan peranan bangsa lain.
3.      Rias Usia yaitu rias yang berfungsi untuk mengubah seorang deklamator menjadi orang lain yang usianya lebih tua. Dalam rias ini perlu mengetahui tentang anatomi manusia dan berbagai tingkat umur, Ketuaan pada wajah biasanya ditandai dengan kerut pada bibir, dahi dan sudut mata.
4.      Rias Tokoh yaitu rias yang berfungsi untuk mengubah seorang deklamator menjadi tokoh lain. Rias ini termasuk rias yang agak sulit karena adanya hubungan antara bentuk luar dan watak seseorang.
5.      Rias Temporal yaitu rias yang berfungsi untuk membeda-bedakan waktu. Misalnya, rias sehari-hari akan berbeda dengan rias mau ke pesta.
6.      Rias Aksen yaitu rias yang berfungsi untuk mempertegas aksen seorang deklamator  yang mendekati peran yang akan dimainkan. Misalnya: Pemuda Jawa akan memainkan peranan sebagai pemuda Jawa.
7.      Rias Lokal yaitu rias yang ditentukan oleh tempatnya. Misalnya: rias seorang petani di sawah akan berbeda dengan petani tapi sudah dirumah.

IX TATA KOSTUM
Kostum (busana) ialah segala sandangan dan perlengkapannya (accessoris) yang dikenakan di dalam pertunjukan. Kostum pertunjukan meliputi semua pakaian, sepatu, pakaian kepala, dan perlengkapan-perlengkapannya yang lain. Biasanya produksi-produksi amatir memusatkan perhatian pada lapis luar kostum serta mengabaikan kaki dan pakaian-pakaian dalam. “Pakaian-pakain itu tidak akan berpengaruh”, demikian kata mereka. Akan tetapi, pernyataan itu bagi mereka yang mahir dalam dunia teater tidak benar.

A.      Macam-Macam Kostum Pentas.
Macam kostum dapat digolongkan menjadi lima bagian:
1.    Pakaian dasar atau foundation.
Pakaian dasar adalah bagian kostum, entah kelihatan atau tidak, yang penting untuk memberikan silhouette pada kostum. Krinolon atau rok simpai, korset, petikut yang dipakai di bawah pakaian luar, setagen, dan sebagainya.
2.    Pakaian kaki/sepatu.
Gaya sepatu penting, tidak hanya demi efek visual, tetapi juga karena hal itu mempengaruhi cara si pelaku bergerak dan berjalan. Cara berjalan seseorang berbeda-beda menurut tinggi tumit sepatu. Tumit yang tinggi biasanya lebih berakibat gerak pinggang banyak, tumit yang rendah perlu untuk gerak lembut rok bundar, tanpa tumit akan berakibat rendah hal yang lain lagi. Sepatu yang jelas modern gayanya atau tidak cocok dengan periode tertentu haruslah tidak dipakai bersama kostum periode itu, meski warnanya sesuai sekalipun.
3.    Pakaian tubuh/ body.
Pakaian tubuh adalah pakaian-pakaian tubuh yang kelihatan oleh penonton. Ini meliputi blus, rok (skirt), kemeja, overall, celana, dan lain-lain yang dipakai oleh pelaku.
4.    Pakaian kepala/headress.
Termasuk pakaian kepala adalah penataan rambut (coiffure). Corak pakaian kepala tentu saja bergantung pada corak kostum. Gaya rambut kadang-kadang dimasukkan ke dalam make-up. Kostum dan make-up sangat erat berjalinan dengan melukiskan peranan hingga kedua hal itu harus diperhatikan bersama. Hairdo atau tata rambut disesuaikan dengan wajah dan bentuk tubuh.
5.    Perlengkapan-perlengkapan/accessories.
Pakaian-pakaian yang melengkapi, yaitu bagian-bagian kostum yang bukan pakaian-pakaian dasar atau yang belum termasuk bagian-bagian di atas, akan tetapi dapat ditambahkan demi efek dekoratif, karakter, atau tujuan-tujuan lain, meliputi kaus tangan, perhiasan, dompet, ikat pingggang, kipas, dan sebagainya.

B.       Hubungan Kostum dengan Fase-Fase Lain di Pentas
Kostum biasanya akan lebih efektif dan sesuai bila direncanakan bersama-sama dengan fase-fase produksi yang lain. Kostum-kostum haruslah saling bersesuaian dan cocok dengan scenery(keadaan adegan).


C.       Tujuan dan Fungsi Kostum
1.      Tiap costuming mempunyai dua tujuan:
a.       Membantu penonton agar mendapatkan suatu ciri atas pribadi deklamator,
b.      Membantu memperlihatkan adanya hubungan antara deklamator dengan isi puisi atau dengan deklamator lain jika tampil bersamaan.
2.      Fungsi kostum
a.       Membantu menghidupkan perwatakan deklamator. Artinya, sebelum dia berdeklamasi, kostum sudah menunjukkan hubungan deklamator dengan puisi yang akan dibawakan. Kostum juga dapat menggambarkan hubungan psikologis dengan karakter lain.
b.      Individualisasi peranan. Warna dan gaya kostum dapat membedakan seorang deklamator dari deklamator yang lain dan dari setting serta latar belakang. Gaya suatu periode yang mempunyai karakteristik-karakteristik yang sama menimbulkan duplikasi dan monotomi, bukan individualisasi yang perlu bagi deklamator.
c.       Memberi fasilitas dan membantu gerak deklamator. Deklmator harus dapat melaksanakan laku atau stage business yang diperlukan tanpa terintang oleh kostumnya. Kostum tidak hanya harus menjadi pembantu bagi pelaku, tetapi juga harus menambah efek visual gerak, menambah indah dan menyenangkan posisi deklamator setiap saat.
D.      Tipe-Tipe Kostum Pentas
Kostum pentas dapat digolongkan ke dalam empat tipe:
1.    Kostum historis adalah dari periode-periode spesifik dalam sejarah.
2.    Kostum modern adalah pakaian yang dipakai dalam masyarakat sekarang.
3.    Kostum nasional adalah kostum dari negara atau tempat yang spesifik.
Bisa saja kostum bertipe historis dan nasional sekaligus.
4.    Kostum tradisional adalah kostum represantasi karakter spesifik secara simbolis dan distilasi, seperti kostum pierrot, pierertte, dan harlequin, dan suku.
E.       Cara Memakai
Lebih dahulu kita bedakan antara bendandan dan memakai kostum. Berdandan hanya memakai pakaian saja. Sedangkan memakai kostum adalah menggunakan pakaian dengan hidupnya. Atau dengan kata lain,  hidup sesuai dengan corak pakaiannya.
Ada dua teknik dalam memakai kostum:
1.    Kostum dikenakan pada tubuh tanpa model khusus.
2.    Kostum yang dikenakan sudah disesuaikan dengan bentuk tubuh.
Dua macam studi dalam merencanakan kostum:
1.    Studi atas isi puisi yang dibawakan oleh deklamator.
2.    Usaha riset atas periode sejarah dan pakaian nasional yang sesuai dengan isi puisi

IX PERNAPASAN

Seorang artis panggung, baik itu dramawan, penyanyi, deklamator , atau qori’, untuk memperoleh suara yang baik, ia memerlukan pernapasan yang baik pula. Oleh sebab itu, ia harus melatih pernapasan/alat-alat pernapasannya serta mempergunakannya secara tepat agar dapat diperoleh hasil yang maksimum, baik dalam latihan maupun pementasan.
A.      Macam-Macam Pernapasan yang Biasa Dipergunakan:
1.    Pernapasan dada
Pada pernapasan dada kita menyerap udara kemudian kita masukkan ke rongga dada sehingga dada kita membusung.
Di kalangan orang orang teater, pernapasan dada biasanya tidak dipergunakan karena disamping daya tampung atau kapasitas dada untuk udara sangat sedikit, juga dapat mengganggu gerak/akting kita, karena bahu menjadi kaku.
2.    Pernapasan perut
Dinamakan pernapasan perut jika udara yang kita hisap kita masukkan ke dalam perut sehingga perut kita menggelembung,
Pernapasan perut dipergunakan oleh sebagian teatrikal, karena tidak banyak mengganggu gerak dan daya tampungnya lebih banyak dibandingkan dada.
3.    Pernapasan lengkap
Pada pernapasan lengkap kita mempergunakan dada dan perut untuk menyimpan udara, sehingga udara yang kita serap sangat banyak (maksimum).
Pernapasan lengkap dipergunakan oleh sebagian artis panggung yang biasanya tidak terlalu mengutamakan akting, tetapi mengutamakan vokal.
4.    Pernapasan diafragma (sekat antara rongga dada dan rongga perut))
Pernapasan diafragma ialah jika pada waktu kita mengambil udara, maka diafragma kita mengembang. Hal ini dapat kita rasakan dengan mengembangnya perut, pinggang, bahkan bagian belakang tubuh di sebelah atas pinggul juga turut mengembang.
Menurut perkembangan akhir-akhir ini, banyak orang-orang teater yang mempergunakan pernapasan diafragma, karena tidak banyak mengganggu gerak dan daya tampungnya lebih banyak dibandingkan dengan pernapasan perut.
B.       Latihan-latihan Pernapasan:
1.      Pertama kita menyerap udara sebanyak mungkin. Kemudian masukkan ke dalam dada, kemudian turunkan ke perut, sampai di situ napas kita tahan. Dalam keadaan demikian, tubuh kita gerakkan turun sampai batas maksimurn bawah. Setelah sampai di bawah, lalu naik lagi ke posisi semula, barulah napas kita keluarkan kembali.
2.      Cara kedua adalah menarik napas dan mengeluarkannya kembali dengan cepat.
3.      Cara berikutnya adalah menarik napas dalam-dalam, kemudian keluarkan lewat mulut dengan mendesis, menggumam, ataupun cara-cara lain. Di sini kita sudah mulai menyinggung vokal.

XII PROPERTI
Properti  merupakan sebuah perlengkapan yang diperlukan dalam pementasan. Contoh: kursi, meja, robot, hiasan ruang, dekorasi, dan lain-lain.
Sering kali muncul anggapan jika properti pentas tak ubahnya hanya pemanis pertunjukan belaka. Sehingga acap kali keberadaan properti menjadi sesuatu yang disepelekan. Namun,  pendapat itu disanggah Daniel SW, penata artistik dan fotografi asal Solo. Menurutnya, sebuah kesuksesan pertunjukan ditunjang oleh banyak hal, salah satunya adalah properti itu sendiri.
Secara umum, properti panggung dibagi dalam dua kategori, yaitu properti fungsional dan properti realis. Dicontohkan dalam dunia teater, pemilihan jenis properti itu didasarkan pada naskah dan skenario adegan atau isi puisi.Meski sederhana, tetapi dalam konteks tersebut pemakaian properti bukan sekadar pelengkap pertunjukan. Tapi sudah sebagai unsur penting pembangun roh pertunjukan itu sendiri


 I DEKLAMASI DAN POETRY READING
A.      Sekilas Deklamasi dan Poetry Reading
Deklamasi berasal dari bahasa Latin yang maksudnya declamare atau declaim yang bermakna membaca sesuatu hasil sastera yang berbentuk puisi dengan lagu atau gerak tubuh sebagai alat bantu. Gerak yang dimaksudkan ialah gerak alat bantu yang puitis, yang seirama dengan isi bacaan. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, deklamasi adalah penyajian sajak yang disertai lagu dan gaya.
Umumnya memang deklamasi berkait rapat dengan puisi, akan tetapi membaca sebuah cerpen dengan lagu atau gerak tubuh juga bisa dikatakan mendeklamasi. Mendeklamasikan puisi atau cerpen bermakna membaca, tetapi membaca tidak sama dengan maksud mendeklamasi. Maksudnya di sini bahwa apapun pengertian membaca tentunya jauh berbeda dengan maksud deklamasi. Di Indonesia perkataan deklamasi sudah ada lewat tahun 1950. Orang yang melakukan deklamasi itu disebut "Deklamator" untuk lelaki dan "Deklamatris" untuk perempuan.
Sebelum ada Istilah baca puisi, kegiatan deklamasi sudah dikenal lebih dahulu, baru pada  tahun 1960-an,  sepulang belajar dari Amerikat Serikat, WS. Rendra membawa oleh-oleh sastra, dengan istilah Poetry Reading. Perkembangan Poetry Reading atau baca puisi sangat cepat populer dan menarik pemerhati dan penikmat sastra, sehingga baca puisi lebih sering diadakan oleh para penyair, pelajar, mahasiswa dalam perbagai kegiatan, misalnya: lomba baca puisi, dialoq sastra dan baca puisi, pertunjukan puisi musikalitas, parade puisi, dan lain-lain.
B.       Perbedaan Baca Puisi (Poetry Reading) dan Deklamasi Puisi
Sesuai dengan pengertian deklamasi yang telah disebutkan diatas, bahwa mendeklamasi puisi berbeda dengan membaca puisi
1.    Saat membaca puisi si pembaca memegang naskah puisi, sedangkan deklamasi tidak memegang naskah puisi sehingga dapat berkonsentrasi dengan baik melakukan gerak jasmaniah secara bervariasi.
2.    Ketika  membaca puisi, puisi yang dibaca lebih banyak dan panjang dari pada deklamasi.
3.    Pada membaca puisi, faktor suara atau intonasi banyak berperan, sedangkan dalam deklamasi disamping intonasi juga faktor mimik dan getsur atau gerak jasmaniah.
4.    Membaca puisi relatif untuk diri sendiri dan orang lain, sedangkan deklamasi semata-mata untuk orang lain.

II AKSENTUASI
Aksentuasi adalah upaya untuk mengoptimalkan unsur pembeda pada suatu ungkapan bahasa agar tidak berkesan monoton dengan tekanan ucapan tertentu, isi pikiran dan isi perasaan bisa ditonjolkan
A.      Teknik Teknik Ucapan Ada Tiga:
1.    Tekanan Dinamik
Tekanan dinamik ialah tekanan keras di dalam ucapan. Untuk membedakan sebuah kata yang dianggap lebih penting dari yang lain, kita memberi tekanan keras waktu mengucapkan kata tersebut;
“Saya tidak suka serabi!”
(Artinya . . . kalau penganan lain saya suka)
Saya tidak suka serabi!”
(Artinya . . . kalau ibu saya suka)
“Saya tidak suka serabi!”
(Artinya . . . tak perlu dibujuk lagi)
2.    Tekanan Tempo
Tekanan tempo ialah tekanan terhadap kata dengan memperlambat pengucapan kata tersebut;
“Saya tidak suka se - ra - bi!”
“Sa - ya tidak suka serabi!”
“Saya ti - dak suka serabi!”
Hasilnya serupa dengan tekanan dinamik. Kata yang diberi tekanan tempo menjadi kata yang lebih penting dari yang lainnya. Jadi, tekanan tempo juga sangat berguna untuk menjelaskan isi pikiran.
3.    Tekanan Nada
Tekanan nada dipergunakan untuk mengucapkan kata-kata dengan lagu tertentu. Misalnya: “Hebat betul kau ini.”
Kalimat di atas bisa mencerminkan perasaan kagum tetapi bisa juga mencerminkan perasaan jengkel, marah, ataupun sedih, tergantung nada pengucapannya.
B.       Latihan!
1.    Ucapkan dengan rasa kagum:
“Hebat betul kau ini!”
2.    Ucapkan dengan rasa jengkel:
“Hebat betul kau ini!”
3.    Ucapkan dengan rasa sedih:
“Hebat betul kau ini!”
Ternyata tekanan nada sangat berguna untuk mencerminkan isi perasaan.
Contoh lain aksentuasi sebagai berikut:


Serang (kota) dan serang (tindakan menyerang dalam pertempuran).
Apel (buah) dan apel bendera (menghadiri upacara bendera).
Mental (kejiwaan) dan mental (terpelanting).
Tahu (masakan, makanan) dan tahu (mengetahui sesuatu).

III ARTIKULASI

Artikulasi ialah lafal atau pengucapan kata (perubahan rongga dan ruang di saluran suara untuk menghasilkan bunyi bahasa). Artikulasi yang baik yaitu  pengucapan yang jelas. Setiap suku kata terucap dengan jelas dan terang meskipun diucapkan dengan cepat sekali. Jangan terjadi kata‑kata yang diucapkan menjadi tumpang-tindih. sehingga telinga pendengar/penonton dapat mengerti pada kata‑kata yang diucapkan. Lafal yang benar pengucapan kata yang sesuai dengan hukum pengucapan bahasa yang dipakai. Misalnya, berani yang berarti "tidak takut" harus diucapkan berani bukan ber‑ani.
Pada pengertian artikulasi ini dapat ditemukan beberapa sebab yang mengakibatkan terjadinya artikulasi yang kurang/tidak benar, yaitu:
Cacat artikulasi alam: cacat artikulasi ini dialami oleh orang yang berbicara gagap atau orang yang sulit mengucapkan salah satu konsonan, misalnya ‘r’, dan sebagainya.
Artikulasi jelek ini bukan disebabkan karena cacat artikulasi, melainkan terjadi sewaktu‑waktu. Hal ini sering terjadi pada pengucapan naskah/dialog. Misalnya:
Kehormatan menjadi kormatan
Menyambung menjadi mengambung, dan sebagainya.
Artikulasi jelek disebabkan karena belum terbiasa pada dialog, pengucapan terlalu cepat, gugup, dan sebagainya.
Artikulasi tak tentu: hal ini terjadi karena pengucapan kata/dialog terlalu cepat,
seolah‑olah kata demi kata berdempetan tanpa adanya jarak sama sekali. Untuk mendapatkan artikulasi yang baik maka kita harus melakukan latihan. Misalnya,  mengucapkan alfabet dengan benar, perhatikan bentuk mulut pada setiap pengucapan. Ucapkan setiap huruf dengan nada‑nada tinggi, rendah, sengau, kecil, besar, dan seterusnya, juga ucapkanlah dengan berbisik.Variasikan dengan pengucapan lambat, cepat, naik, turun, dan sebagainya.


IV INTONASI
Intonasi adalah lagu membaca puisi. Intonasi atau lagu kalimat berkaitan dengan ketepatan dalam menentukan keras-lemahnya pengucapan suatu kata. Intonasi dan artikulasi sangat berkaitan dengan irama. Irama merupakan unsur sangat penting dan jiwa dari sebuah puisi. Irama adalah totalitas dari tinggi-rendah, keras-lembut, dan panjang- pendek suara. Irama puisi tercipta dengan melakukan intonasi.
A.      Jenis-Jenis Intonasi dalam Pembacaan Puisi
1.    Intonasi dinamik, yaitu tekanan pada kata-kata yang dianggap penting.
2.    Intonasi nada, yaitu tekanan tinggi-rendahnya suara. Suara tinggi menggambarkan
keriangan, marah, takjub, dan lain sebagainya. Sementara, suara rendah mengungkapkan kesedihan, pasrah, ragu, putus asa, dan lain sebagainya.
3.    Intonasi tempo, yaitu cepat-lambat pengucapan suku kata atau kata.
Intonasi harus diatur sedemikian rupa, sehingga mampu menghasilkan atau menampilkan karya seni yang indah.
B.       Perbedaan Lafal, Tekanan, Intonasi, dan Jeda
1.    Lafal merupakan cara seseorang atau sekelompok orang untuk mengucapkan bunyi-bunyi bahasa. Dalam bahasa tulis , lafal tidak terlihat dengan jelas dan lebih jelas apabila diucapkan dengan lisan
2.    Tekanan merupakan bagian yang terpenting dari lafal, yang ditunjukkan sebagai fariasi dalam kalimat yang lebih penting
3.    Intonasi  merupakan lagu kalimat atau kecepatan penyajian tinggi-rendahnya nada kalimat.
4.    Jeda merupakan waktu berhenti atau hentian sebentar dalam ujaran, dan berpengaruh pada perubahan makna.
V AKTING

Akting (berperan) berasal dari kata to act, yang berarti beraksi. Akting juga bisa diartikan melakukan sesuatu atau aksi sesuai karakter tokoh yang diperankannya, dan melakukan yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari sebagaimana mestinya.
Untuk itu, perlu diketahui juga, bahwa akting dalam konteks ini adalah perpaduan antara atraksi fisikal (tubuh)            , Intelektual (analisis karakter dan naskah), dan spiritual (transformasi jiwa).
Usaha seorang aktor dalam melakoni seni akting adalah dengan mengembangkan kemampuan berekspresi, menganalisa naskah, dan mentransformasi diri ke dalam karakter yang ia mainkan.
Dengan menempa ketiganya, aktor akan bisa membuka diri dan menyerap kekayaan pengalaman hidup dari si tokoh sesuai dengan isi naskah.
Untuk mencapai hal tersebut, aktor bisa mengolah kembali pengalaman hidup atau melihat situasi sosial di lingkungan sekitarnya.
Aktor harus mampu menyatukan dirinya ke dalam personal si tokoh (isi puisi) yang akan ia mainkan (bawakan). Hal ini berarti berhubungan dengan kondisi batin. Karena kondisi batin inilah yang kelak akan menghasilkan penampilan (permainan) yang kaya dan kreatif serta presentasi yang natural. Sehingga proses penghayatan pun akan mengalir dengan kondisi batin yang baik.
Seorang aktor juga harus diasah intuisi-nya, untuk mempelajari sifat-sifat manusiawi dalam kehidupan si tokoh (isi puisi)yang akan ia bawakan, serta menuangkannya dalam batin atau biasa dikenal dengan proses inner-act.
Akting yang baik ialah gerak yang:
1.      terlihat (blocking baik/tepat penempatan di atas panggung).
2.      jelas (tidak ragu‑ragu, meyakinkan).
3.      dimengerti (sesuai dengan hukum gerak dalam kehidupan).
4.      menghayati (sesuai dengan tuntutan/jiwa peran{isi puisi} yang ditentukan dalam naskah).
Pemain (deklamator) lebih baik terlihat sebagian besar bagian depan tubuh daripada terlihat sebagian besar belakang tubuh. Hal ini dapat diatur dengan patokan sebagai berikut:
1.        Kalau berdiri menghadap ke kanan, maka kaki kanan sebaiknya berada di depan.
2.        Kalau berdiri menghadap ke kiri, maka kaki kiri sebaiknya berada di depan.
Untuk menambah kualitas akting dalam berdeklamasi, ada teknik yang harus digunakan deklamator yaitu teknik muncul. Pemeran Muncul pertama kali bahasa inggris di sebut dengan Teknik of Entrance  yaitu teknik seorang pemain untuk pertama kalinya tampil di atas pentas dalam satu sandiwara satu babak atau satu adegan. Barang kali kemunculannya tatkala pemain-pemain yang lain sudah berada duluan di atas pentas dalam satu adegan, barang kali ia muncul tepat waktu layar di buka, barang kali juga ia muncul pertama kali seorang diri diatas pentas seorang iri seorang diri di atas pentas sebagai pembuka.
Tekinik muncul ini penting karena ia lakukan dalam keadaan kesan ( imprese) menerbitkan ke inginan tahuan penonton kepada sang pemain, bagaiman ia melakukan aktifitas penonton akan lebih dapat menikmati dalam bermain.
Ketika di dalam naskah “ Panembahan Reso ( W.S Rendra ). Ada adegan pesta pora di Istana, jaga baya terburu-buru dating menghadap Raja membawa surat Panji- Tumbal.
Jagabaya          : Yang mulia, hamba menghadap untuk mempersembahkan surat.
Raja Tua          : Reso bawa dia kemari.
Reso                : baik,yang mulia. Mari kamu ! bicara
Jagabaya          :Hamba memimpin pasukan pengawal  istana hari ini. Seorang pasukan menggebu dengan kuda. Ia datang dari Tegal Wurung membawa surat panji tumbal untuk Sri baginda, sedang ia sendiri selesai bicara langsung melompat ke punggung kuda, dan setelah mohon maaf karena ia sendiri di buru oleh urusan maha gawat lalu melaju di telan debu.
Raja Tua          : bawa kemari surat itu.

Muncul Jagabaya membawa surat Panji Tumbal ayang diserahkan kepada raja tua, supaya lebih memberi pendalaman watak permainan maka peranan tersebut harus dapat menyesuaikan alur irama permainan yang sedang – berjalan.
Jagabaya          : ( Melangkah beberapa langkah menuju arah ke-arah Raja Tua, dengan tergesa-gesa ).
Jagabaya          : yang mulia, hamba menghadap Untuk mempersenbahklan surat (menunggu beberapa saat reaksi Raja Tua) Didalam naskah “ OIDIPUS REX “ (Sopholes) adanya adegan Ratu Jocosta yang keluar dari istana denga tergesa-gesa untuk memisah pertengkaran oidpus dengan creon sambil berseru :
Jocosta : Bencana ! Bencana ! kenapa para pangeran bersenketa, sedang negara dalam bencana.
Akan lebih megesankan lagi apabila pemeran jocosta muncul, dengan setengah berlari sambil berseru
Jocosta : Bencana ! Bencana !
( lalu berhenti sekejap dua kejap sambil memandang tajam pada oidipus dan creon sambil maju ke tengah-tengah di antara oidipus dan creon sambil mengucapkan sisa kalimat ) kenapa para pangeran bersengketa, sedang negara dalam bencana.
                                        Selain teknik muncul,  untuk membantu terciptanya kulitas akting, salah satu cara yang harus dilakukan seorang dekmator hendaknya menguasai teknik bela diri dasar.



VI IMPROVISASI

Improvisasi adalah ciptaan spontan ketika seorang aktor bermain peran (Rendra, 1993: 70). Menurut Panuti Sudjiman (1990:37) improvisasi merupakan penciptaan seketika, tanpa persiapan atau rencana. Menurut Ruth Beall Heining ( 1993 : 184 ) improvisasi sebagai aktivitas yang dihasilkan secara spontan melalui suatu situasi.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapatlah dirumuskan bahwa improvisasi merupakan suatu aktivitas yang dihasilkan secara spontan dengan menggalakkan daya imajinasi, kreativitas, dan inovasi seorang aktor.
Improvisasi dalam pengertian saat ini merupakan latihan pengembangan dasar dari bentuk-bentuk pelatihan elemen dasar (olah vokal, olah tubuh, olah pikir dan olah rasa serta teori-teori pemanggungan dasar).
Jenis-Jenis Improvisasi Menurut Rendra, antara lain:
1.    Improvisasi solo
Di dalam latihan improvisasi ini aktor tidak mempunyai naskah, tidak mempunyai sutradara. Ia benar-benar sendiri, bahkan si aktor tidak mempunyai persiapan apapun, satu-satunya yang ia miliki hanyalah persiapan mental. Karena ia berimprovisasi sendirian tanpa pasangan, maka disebut improvisasi solo.
2.    Improvisasi dengan perabotan
Yang dimaksud dengan perabotan di sini adalah benda apa saja yang jadikan alat atau perabotan di saat seorang aktor berlakon (berakting). Dalam permulaan berimprovisasi, seorang aktor harus benar-benar tenang dan kosong, sehingga ketika seorang aktor berada di atas panggung ia dapat memanfaatkan benda-benda yang ada di atas panggung sebagai wadah untuk berimprovisasi.
3.     Improvisasi dengan menanggapi bunyi dan musik
Kegunaan dari latihan improvisasi ini adalah untuk mempersiapkan agar akting seorang aktor di atas panggung tidak hanya jelas dan tepat, tetapi juga mengandung daya khayal yang mampu membuat penonton terpesona, dengan memanfaatkan irama musik yang mengiringi permainan sang aktor.

VII TATA PENTAS

Pentas/panggung adalah tempat berlangsungnya sebuah pertunjukan. Dalam sejarah perkembangannya, seni teater memiliki berbagai macam jenis panggung yang dijadikan tempat pementasan. Perbedaan jenis panggung ini dipengaruhi oleh tempat dan zaman di mana teater itu berada serta gaya pementasan yang dilakukan. Bentuk panggung yang berbeda memiliki prinsip artistik yang berbeda. Misalnya, dalam panggung yang penontonnya melingkar, membutuhkan tata letak perabot yang dapat enak dilihat dari setiap sisi. Berbeda dengan panggung yang penontonnya hanya satu arah dari depan. Untuk memperoleh hasil terbaik, penata panggung diharuskan memahami karakter jenis panggung yang akan digunakan serta bagian-bagian panggung tersebut.
Jenis-Jenis Panggung sebagai berikut:
A.  Arena
Panggung arena adalah panggung yang penontonnya melingkar atau duduk mengelilingi panggung. Penonton sangat dekat  sekali dengan deklamator. Agar deklamator dapat terlihat dari setiap sisi, maka penggunaan set dekor berupa bangunan tertutup vertikal tidak diperbolehkan karena dapat menghalangi pandangan penonton. Karena bentuknya yang dikelilingi oleh penonton, maka penata panggung dituntut kreativitasnya untuk mewujudkan set dekor. Segala perabot yang digunakan dalam panggung arena harus benar-benar dipertimbangkan dan dicermati secara hati-hati baik bentuk, ukuran, dan penempatannya. Semua ditata agar enak dipandang dari berbagai sisi.
Panggung arena biasanya dibuat secara terbuka (tanpa atap) dan tertutup. Inti dari pangung arena baik terbuka atau tertutup adalah mendekatkan penonton dengan deklamator. Kedekatan jarak ini membawa konsekuensi artistik tersendiri baik bagi deklamator dan (terutama) tata panggung. Karena jaraknya yang dekat, detil perabot yang diletakkan di atas panggung harus benar-benar sempurna sebab jika tidak maka cacat sedikit saja akan tampak. Misalnya, di atas panggung diletakkan kursi dan meja berukir. Jika bentuk ukiran yang ditampilkan tidak tampak sempurna ‘berbeda satu dengan yang lain’ maka penonton akan dengan mudah melihatnya. Hal ini mempengaruhi nilai artistik pementasan.
B.   Proscenium
Panggung proscenium bisa juga disebut sebagai panggung bingkai karena penonton menyaksikan aksi aktor melalui sebuah bingkai atau lengkung proscenium (proscenium arch). Bingkai yang dipasangi layar atau gorden inilah yang memisahkan wilayah akting deklamator dengan penonton yang menyaksikan pertunjukan dari satu arah. Dengan pemisahan ini, maka pergantian tata panggung dapat dilakukan tanpa sepengetahuan penonton. Aktor dapat bermain dengan leluasa seolah-olah tidak ada penonton yang hadir melihatnya. Pemisahan ini dapat membantu efek artistik yang dinginkan terutama dalam gaya realisme yang menghendaki lakon seolah-olah benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata.
C. Thrust
Panggung thrust seperti panggung proscenium tetapi dua per tiga bagian depannya menjorok ke arah penonton. Pada bagian depan yang menjorok ini penonton dapat duduk di sisi kanan dan kiri panggung. Panggung thrust nampak seperti gabungan antara panggung arena dan proscenium.
Untuk penataan panggung, bagian depan diperlakukan seolah panggung arena sehingga tidak ada bangunan tertutup vertikal yang dipasang. Sedangkan panggung belakang diperlakukan seolah panggung proscenium yang dapat menampilan kedalaman objek atau pemandangan secara perspektif.
VIII TATA RIAS

Tata rias adalah segala sesuatu yang harus ditujukan untuk membentuk artistik yang mendukung deklamator dalam sebuah pementasannya. Tata rias ditekankan pada cara menggunakan bahan-bahan yang diperlukan untuk mewujudkan wajah dan badan yang artistik.
Hal yang perlu diperhitungkan dalam tata rias pentas yaitu jarak antara penonton dengan yang ditonton dan intensitas penyinaran lampu. Dengan memperhitungkan daerah pandang penonton yang mempunyai jarak antara 4 sampai 6 meter maka akan mempengaruhi tebal-tipisnya tata rias. Begitu juga dengan intensitas cahaya dan warna cahaya akan sangat mempengaruhi warna dan kejelas sebuah tata rias.
A.      Tugas dan Fungsi Tata Rias
Tugas tata rias yaitu membantu memberikan dandanan atau perubahan-perubahan pada deklamator sehingga terbentuk dunia pentas dengan suasana yang kena dan wajar. Tugas ini dapat merupakan fungsi pokok, dapat pula sebagai fungsi bantuan. Sebagai fungsi pokok, misalnya tata rias ini mengubah seorang gadis belia menjadi nenek tua atau seorang wanita sebagai seorang laki-laki atau sebaliknya. Sebagai fungsi bantuan, misalnya seorang gadis muda akan dirias menjadi gadis muda, tetapi masih harus memerlukan sedikit riasan muka atau rambut dan hal-hal kecil lainnya.
B.       Kegunaan Tata Rias
1.      Merias tubuh berarti mengubah  hal yang alami menjadi hal yang berguna artinya dengan prinsip mendapatkan daya guna yang tepat. Bedanya dengan rias cantik adalah kalau rias cantik mengubah hal yang jelek menjadi cantik. Sedangkan rias untuk teater adalah mengubah hal yang alami menjadi hal yang dikehendaki.
2.      Mengatasi efek tata lampu yang kuat.
3.      Membuat wajah dan badan sesuai dengan isi puisi yang dikehendaki.

C.      Faktor-Faktor yang Perlu Diperhatikan dalam Tata Rias
1.      Rata dan halusnya base. Base yaitu bahan yang berguna untuk melindungi kulit dan untuk memudahkan pelaksanaan dan penghapusan tata rias.
2.      Kesamaan Foundation. Foundation yaitu bedak dasar yang memberikan dasar warna kulit sesuai dengan warna kulit peran.
3.      Penggunaan garis-garis yang layak. Garis-garis ini berguna untuk memperjelas anatomi muka, batas-batas bagian wajah (alis, mata, keriput-keriput).
4.      Harmoni antara sinar dan bayangan-bayangan. Highlight dan shadow memberi efek bahwa manusia itu tiga dimensional.
D.      Bahan-Bahan Tata Rias
1.      Base, yang termasuk ini adalah bedak dingin atau coldcream. Cara memakainya mengambil dengan telunjuk, letakkan pada bagian yang menonjol, gosok dengan cara memutar sampai rata.
2.      Foundation, ada dua macam, yaitu stick dan pasta. Cara menggunakannya sama dengan base.
3.      Lines, gunanya untuk memberi batas anatomi muka. Macamnya ada eyebrow pencil (membentuk alis dan memperindah mata), eyelash (membentuk bulu mata agar melengkung), lipstick, highlight dan shadow (menciptakan efek tiga dimensi pada muka), eyeshadow (membentuk dimensi pada mata).
4.      Rouge, gunanya untuk menghidupkan  pipi dekat mata, tulang pipi, dagu, kelopak mata antara hidung dan mata.
5.      Cleansing, gunanya untuk membersihkan segala tata rias dan juga sebagai nutrient dan pengobatan padan kulit.
E.       Macam-macam Tata Rias
1.      Rias Jenis yaitu rias yang  dilakukan untuk mengubah jenis seorang deklamator, dari laki-laki menjadi wanita atau sebaliknya.
2.      Rias Bangsa yaitu rias yang berfungsi untuk mengubah seorang deklamator yang harus memainkan peranan bangsa lain.
3.      Rias Usia yaitu rias yang berfungsi untuk mengubah seorang deklamator menjadi orang lain yang usianya lebih tua. Dalam rias ini perlu mengetahui tentang anatomi manusia dan berbagai tingkat umur, Ketuaan pada wajah biasanya ditandai dengan kerut pada bibir, dahi dan sudut mata.
4.      Rias Tokoh yaitu rias yang berfungsi untuk mengubah seorang deklamator menjadi tokoh lain. Rias ini termasuk rias yang agak sulit karena adanya hubungan antara bentuk luar dan watak seseorang.
5.      Rias Temporal yaitu rias yang berfungsi untuk membeda-bedakan waktu. Misalnya, rias sehari-hari akan berbeda dengan rias mau ke pesta.
6.      Rias Aksen yaitu rias yang berfungsi untuk mempertegas aksen seorang deklamator  yang mendekati peran yang akan dimainkan. Misalnya: Pemuda Jawa akan memainkan peranan sebagai pemuda Jawa.
7.      Rias Lokal yaitu rias yang ditentukan oleh tempatnya. Misalnya: rias seorang petani di sawah akan berbeda dengan petani tapi sudah dirumah.

IX TATA KOSTUM
Kostum (busana) ialah segala sandangan dan perlengkapannya (accessoris) yang dikenakan di dalam pertunjukan. Kostum pertunjukan meliputi semua pakaian, sepatu, pakaian kepala, dan perlengkapan-perlengkapannya yang lain. Biasanya produksi-produksi amatir memusatkan perhatian pada lapis luar kostum serta mengabaikan kaki dan pakaian-pakaian dalam. “Pakaian-pakain itu tidak akan berpengaruh”, demikian kata mereka. Akan tetapi, pernyataan itu bagi mereka yang mahir dalam dunia teater tidak benar.

A.      Macam-Macam Kostum Pentas.
Macam kostum dapat digolongkan menjadi lima bagian:
1.    Pakaian dasar atau foundation.
Pakaian dasar adalah bagian kostum, entah kelihatan atau tidak, yang penting untuk memberikan silhouette pada kostum. Krinolon atau rok simpai, korset, petikut yang dipakai di bawah pakaian luar, setagen, dan sebagainya.
2.    Pakaian kaki/sepatu.
Gaya sepatu penting, tidak hanya demi efek visual, tetapi juga karena hal itu mempengaruhi cara si pelaku bergerak dan berjalan. Cara berjalan seseorang berbeda-beda menurut tinggi tumit sepatu. Tumit yang tinggi biasanya lebih berakibat gerak pinggang banyak, tumit yang rendah perlu untuk gerak lembut rok bundar, tanpa tumit akan berakibat rendah hal yang lain lagi. Sepatu yang jelas modern gayanya atau tidak cocok dengan periode tertentu haruslah tidak dipakai bersama kostum periode itu, meski warnanya sesuai sekalipun.
3.    Pakaian tubuh/ body.
Pakaian tubuh adalah pakaian-pakaian tubuh yang kelihatan oleh penonton. Ini meliputi blus, rok (skirt), kemeja, overall, celana, dan lain-lain yang dipakai oleh pelaku.
4.    Pakaian kepala/headress.
Termasuk pakaian kepala adalah penataan rambut (coiffure). Corak pakaian kepala tentu saja bergantung pada corak kostum. Gaya rambut kadang-kadang dimasukkan ke dalam make-up. Kostum dan make-up sangat erat berjalinan dengan melukiskan peranan hingga kedua hal itu harus diperhatikan bersama. Hairdo atau tata rambut disesuaikan dengan wajah dan bentuk tubuh.
5.    Perlengkapan-perlengkapan/accessories.
Pakaian-pakaian yang melengkapi, yaitu bagian-bagian kostum yang bukan pakaian-pakaian dasar atau yang belum termasuk bagian-bagian di atas, akan tetapi dapat ditambahkan demi efek dekoratif, karakter, atau tujuan-tujuan lain, meliputi kaus tangan, perhiasan, dompet, ikat pingggang, kipas, dan sebagainya.

B.       Hubungan Kostum dengan Fase-Fase Lain di Pentas
Kostum biasanya akan lebih efektif dan sesuai bila direncanakan bersama-sama dengan fase-fase produksi yang lain. Kostum-kostum haruslah saling bersesuaian dan cocok dengan scenery(keadaan adegan).


C.       Tujuan dan Fungsi Kostum
1.      Tiap costuming mempunyai dua tujuan:
a.       Membantu penonton agar mendapatkan suatu ciri atas pribadi deklamator,
b.      Membantu memperlihatkan adanya hubungan antara deklamator dengan isi puisi atau dengan deklamator lain jika tampil bersamaan.
2.      Fungsi kostum
a.       Membantu menghidupkan perwatakan deklamator. Artinya, sebelum dia berdeklamasi, kostum sudah menunjukkan hubungan deklamator dengan puisi yang akan dibawakan. Kostum juga dapat menggambarkan hubungan psikologis dengan karakter lain.
b.      Individualisasi peranan. Warna dan gaya kostum dapat membedakan seorang deklamator dari deklamator yang lain dan dari setting serta latar belakang. Gaya suatu periode yang mempunyai karakteristik-karakteristik yang sama menimbulkan duplikasi dan monotomi, bukan individualisasi yang perlu bagi deklamator.
c.       Memberi fasilitas dan membantu gerak deklamator. Deklmator harus dapat melaksanakan laku atau stage business yang diperlukan tanpa terintang oleh kostumnya. Kostum tidak hanya harus menjadi pembantu bagi pelaku, tetapi juga harus menambah efek visual gerak, menambah indah dan menyenangkan posisi deklamator setiap saat.
D.      Tipe-Tipe Kostum Pentas
Kostum pentas dapat digolongkan ke dalam empat tipe:
1.    Kostum historis adalah dari periode-periode spesifik dalam sejarah.
2.    Kostum modern adalah pakaian yang dipakai dalam masyarakat sekarang.
3.    Kostum nasional adalah kostum dari negara atau tempat yang spesifik.
Bisa saja kostum bertipe historis dan nasional sekaligus.
4.    Kostum tradisional adalah kostum represantasi karakter spesifik secara simbolis dan distilasi, seperti kostum pierrot, pierertte, dan harlequin, dan suku.
E.       Cara Memakai
Lebih dahulu kita bedakan antara bendandan dan memakai kostum. Berdandan hanya memakai pakaian saja. Sedangkan memakai kostum adalah menggunakan pakaian dengan hidupnya. Atau dengan kata lain,  hidup sesuai dengan corak pakaiannya.
Ada dua teknik dalam memakai kostum:
1.    Kostum dikenakan pada tubuh tanpa model khusus.
2.    Kostum yang dikenakan sudah disesuaikan dengan bentuk tubuh.
Dua macam studi dalam merencanakan kostum:
1.    Studi atas isi puisi yang dibawakan oleh deklamator.
2.    Usaha riset atas periode sejarah dan pakaian nasional yang sesuai dengan isi puisi

IX PERNAPASAN

Seorang artis panggung, baik itu dramawan, penyanyi, deklamator , atau qori’, untuk memperoleh suara yang baik, ia memerlukan pernapasan yang baik pula. Oleh sebab itu, ia harus melatih pernapasan/alat-alat pernapasannya serta mempergunakannya secara tepat agar dapat diperoleh hasil yang maksimum, baik dalam latihan maupun pementasan.
A.      Macam-Macam Pernapasan yang Biasa Dipergunakan:
1.    Pernapasan dada
Pada pernapasan dada kita menyerap udara kemudian kita masukkan ke rongga dada sehingga dada kita membusung.
Di kalangan orang orang teater, pernapasan dada biasanya tidak dipergunakan karena disamping daya tampung atau kapasitas dada untuk udara sangat sedikit, juga dapat mengganggu gerak/akting kita, karena bahu menjadi kaku.
2.    Pernapasan perut
Dinamakan pernapasan perut jika udara yang kita hisap kita masukkan ke dalam perut sehingga perut kita menggelembung,
Pernapasan perut dipergunakan oleh sebagian teatrikal, karena tidak banyak mengganggu gerak dan daya tampungnya lebih banyak dibandingkan dada.
3.    Pernapasan lengkap
Pada pernapasan lengkap kita mempergunakan dada dan perut untuk menyimpan udara, sehingga udara yang kita serap sangat banyak (maksimum).
Pernapasan lengkap dipergunakan oleh sebagian artis panggung yang biasanya tidak terlalu mengutamakan akting, tetapi mengutamakan vokal.
4.    Pernapasan diafragma (sekat antara rongga dada dan rongga perut))
Pernapasan diafragma ialah jika pada waktu kita mengambil udara, maka diafragma kita mengembang. Hal ini dapat kita rasakan dengan mengembangnya perut, pinggang, bahkan bagian belakang tubuh di sebelah atas pinggul juga turut mengembang.
Menurut perkembangan akhir-akhir ini, banyak orang-orang teater yang mempergunakan pernapasan diafragma, karena tidak banyak mengganggu gerak dan daya tampungnya lebih banyak dibandingkan dengan pernapasan perut.
B.       Latihan-latihan Pernapasan:
1.      Pertama kita menyerap udara sebanyak mungkin. Kemudian masukkan ke dalam dada, kemudian turunkan ke perut, sampai di situ napas kita tahan. Dalam keadaan demikian, tubuh kita gerakkan turun sampai batas maksimurn bawah. Setelah sampai di bawah, lalu naik lagi ke posisi semula, barulah napas kita keluarkan kembali.
2.      Cara kedua adalah menarik napas dan mengeluarkannya kembali dengan cepat.
3.      Cara berikutnya adalah menarik napas dalam-dalam, kemudian keluarkan lewat mulut dengan mendesis, menggumam, ataupun cara-cara lain. Di sini kita sudah mulai menyinggung vokal.

XII PROPERTI
Properti  merupakan sebuah perlengkapan yang diperlukan dalam pementasan. Contoh: kursi, meja, robot, hiasan ruang, dekorasi, dan lain-lain.
Sering kali muncul anggapan jika properti pentas tak ubahnya hanya pemanis pertunjukan belaka. Sehingga acap kali keberadaan properti menjadi sesuatu yang disepelekan. Namun,  pendapat itu disanggah Daniel SW, penata artistik dan fotografi asal Solo. Menurutnya, sebuah kesuksesan pertunjukan ditunjang oleh banyak hal, salah satunya adalah properti itu sendiri.
Secara umum, properti panggung dibagi dalam dua kategori, yaitu properti fungsional dan properti realis. Dicontohkan dalam dunia teater, pemilihan jenis properti itu didasarkan pada naskah dan skenario adegan atau isi puisi.Meski sederhana, tetapi dalam konteks tersebut pemakaian properti bukan sekadar pelengkap pertunjukan. Tapi sudah sebagai unsur penting pembangun roh pertunjukan itu sendiri.



DAFTAR PUSTAKA
Harymawan, RMA. 1993. Dramaturgi. Bandung:
Remaja Rosdakarya
Achmad A. Kasim. 1990. Pendidikan Seni Teater.Jakarta:
PT Tema Baru

0 komentar:

:) :( ;) :D ;;-) :-/ :x :P :-* =(( :-O X( :7 B-) :-S #:-S 7:) :(( :)) :| /:) =)) O:-) :-B =; :-c :)] ~X( :-h :-t 8-7 I-) 8-| L-) :-a :-$ [-( :O) 8-} 2:-P (:| =P~ :-? #-o =D7 :-SS @-) :^o :-w 7:P 2):) X_X :!! \m/ :-q :-bd ^#(^ :ar!

Poskan Komentar

 
Cita Aku Sangat Mencintai amu An_me